Fakta mengenai karoshi, kerja yang tiada habis

Fakta mengenai karoshi, kerja yang tiada habis

Jepang merupakan negara yang masyarakatnya gila kerja. Tidak salah banyak sekali etos kerja bagus tercipta dari negeri matahari terbit ini. Tapi sesuatu yang berlebihan juga tidak baik bukan?

Inilah fenomena karoshi yang sering disebut sebagai kematian karena pekerjaan

Fakta mengenai karoshi, kerja yang tiada habis

Karena fenomena karoshi di Jepang sudah terlalu banyak, pemerintah menggalakkan kerja yang efisien agar karoshi bisa diminimalisir. Inilah fakta menarik terkait fenomena karoshi.

1. Usaha pemerintah untuk mengurangi karoshi

Untuk mengatasi masalah serius tersebut, pemerintah Jepang memberlakukan pembatasan lembur berlebih. Biasanya dalam sebulan hanya bisa sampai maksimal 30 jam saja.

Selain pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah, perusahaan otomotif besar Jepang juga mulai memperhatikan kesehatan karyawannya. Mereka memberitahu pekerja untukĀ  pulang setelah jam 7 malam atau pergi lebih awal jika mereka memiliki anak kecil di rumah. Strategi ini terbukti mengurangi angka karoshi, meski tidak begitu signifikan.

Baca Juga  Aplikasi belajar bahasa Jepang pemula menurut Japanese Learning Minato

2. Bisa claim kompensasi

Warga Jepang yang punya anggota keluarga meninggal akibat Karoshi dapat mengajukan permohonan santunan kepada perusahaan tempat orang tersebut bekerja. Pemerintah Jepang telah menetapkan parameter bagi warga yang meninggal akibat karoshi.

Dalam kasus bunuh diri, seseorang dapat mengajukan klaim kompensasi karoshi jika korban bekerja setidaknya 160 jam lembur dalam sebulan atau lebih dari 100 jam lembur selama tiga bulan berturut-turut.

3. Penyebab kematian karena sakit

Pada tahun-tahun berikutnya, karoshi menjadi fenomena yang semakin dikenal di Jepang, terutama di kalangan pekerja kerah putih atau yang disebut “salaryman”. Penyebab karoshi biasanya serangan jantung dan stroke.

4. Jumlah korban

Menurut data yang disampaikan Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang pada tahun 2015, terungkap bahwa jumlah kematian akibat karoshi di Jepang dalam satu tahun terakhir mencapai 1.456 kasus. Angka ini merupakan rekor tinggi di Jepang.

Sebagian besar kasus kematian Karoshi dialami saat bekerja di bidang-bidang seperti teknik, transportasi, perawatan kesehatan dan layanan sosial, yang telah lama kekurangan staf.

Baca Juga  Cara cek JLPT Result

5. Takut akan dipecat

Banyak hal yang membuat pekerja Jepang rela bekerja sangat keras. Mereka sering takut dipecat jika tidak tampil maksimal. Akibatnya, pekerja bekerja lebih keras untuk tampil produktif di hadapan atasannya. Dengan menjadi lebih produktif, mereka berharap dapat meningkatkan gaji atau meningkatkan karir profesional. Sayangnya, banyak yang tidak lagi peduli dengan faktor kesehatan.

6. Muncul pada tahun 1969

Karoshi pertama kali terjadi pada tahun 1969. Saat itu, seorang pria berusia 29 tahun yang sudah menikah bekerja di bagian pengiriman surat kabar terbesar di Jepang. Dia meninggal karena stroke mendadak di kantornya. Kantor Kompensasi Pekerja Kementerian Tenaga Kerja Jepang menganggap terlalu banyak pekerjaan sebagai penyebab kematian pria itu.

Hikikomori

Orang yang bekerja keras dan mati dalam bekerja cukup banyak. Mereka begitu tertekan dengan pekerjaannya. Bagi yang tidak kuat, mereka juga menarik diri dari lingkungannya dan berada di kamar rumahnya dalam waktu lama. Orang orang ini biasanya disebut dengan hikikomori.

Baca Juga  Link Kanji JLPT N5 dan N4

Hikikomori akan hidup dari bantuan orang lain. bagi yang masih ada orang tuanya, mereka akan masih di support, bahkan sampai orang tua meninggal dunia.

Hikikomori yan ditinggal orang tua akan hidup sendirian dan akan dibantu petugas sosial. Tapi karena mereka juga tidak mau meminta bantuan orang lain, ketika ada masalah mereka jarang meminta bantuan. Akibatnya beberapa kasus seorang hikikomori meninggal dunia dalam kamar rumahnya.

Saking beratnya dunia kerja di jepang, banyak yang stress. Beberapa carauntuk menghilangkan stress adalah liburan, belanja, beribadah atau berkumpul dengan keluarga. Dengan adanya perilis stress ini, kesehatan mental pekerja menjadi lebih baik.